Free File Sharing

4shared.com - Free file sharing and storage

Sunday, 12 June 2016

TOLERANSI ?


Hai para penerus bangsa,

Berita ini nampaknya sudah menjadi fenomenal, dimana ada penjual makanan yang dirazia oleh pihak yang berwenang. Jika kita mengikuti berita tersebut, makanan dagangan dari si penjual, yakni si ibu tersebut dibawa oleh Satpol PP. Tujuan razia tersebut adalah untuk menghormati masyarakat yang menjalankan ibadah puasa di siang hari, lantas untuk apa makanan tersebut disita? Apakah tidak cukup hanya dengan teguran?

Saya di sini hanya mencoba membahas hal yang ganjil menurut saya, ya ganjil, bukan genap. Tentunya kita tidak bisa menyalahkan Satpol PP yang bertugas begitu saja, karena tentu Satpol PP bertindak atas surat perintah terlebih dahulu. Tidak mungkin Satpol PP bertindak karena kemauan sendiri dan mengajak teman-temannya untuk mendatangi warung-warung dan melakukan razia. Jadi, di sini mari kita turunkan dulu amarah kepada Satpol PP tersebut, jika ada yang mengutuk tindakan Satpol PP tersebut. Lalu salah siapa? Salah ibu tersebut yang berjualan di siang hari?

Warung yang berjualan di siang hari merupakan hak dari penjual tersebut, karena pedagang merupakan sebuah pekerjaan, dimana pekerjaan tersebut menghasilkan uang, yang uang tersebut digunakan sebagian untuk modal usahanya lagi (yaitu berjualan makanan), dan juga untuk menghidupi keluarga dan dirinya sendiri. Sehingga, menurut saya siapapun tidak bisa menghalangi para pedagang untuk berdagang walaupun sedang ada kegiatan dari salah satu agama. Menurut saya, cukup dengan para pedagang warung makanan menutupi warungnya dengan tirai atau horden atau apapun yang istilahnya menutupi warung tersebut dari orang di luar warung. Tindakan tersebut sudah cukup menghormati para masyarakat yang berpuasa.

Lalu salah siapa???

Sebelum ada yang berkomentar (dan semoga tidak ada), "gara-gara bulan puasa Agama Islam nih tindakan-tindakan seperti itu muncul! Jadinya mematikan pedagang itu!". Ada baiknya saya klarifikasi terlebih dahulu. Kami orang yang berpuasa dengan benar, tidak memerlukan hal-hal seperti itu, bahkan kami yang berpuasa dengan benar tidak masalah dengan adanya warung makan yang berjualan tanpa ditutupi tirai. Karena, berpuasa adalah hubungan pribadi dengan Tuhan (Allah). Kami yang berpuasa dengan benar tidak akan tergoda ataupun tergiur dengan iklan-iklan makanan di TV, postingan makanan-makanan yang menggoda di Social Media, makanan di warung, ataupun teman-teman yang tidak menjalankan ibadah puasa. Sehingga tentu saja apabila ada tuduhan yang menyalahkan seperti di atas, sudah tentu kekeliruan. Karena orang yang berpuasa dengan benar, dia akan konsisten dalam berpuasa dan menganggap godaan-godaan tersebut sebagai gudang amal untuk menaikkan level ketahanan berpuasanya.

Lalu bagaimana dengan orang yang berpuasa tapi dia membatalkan puasanya dengan makan di warung makan? Jadi salah juga dong warung makanannya membuat orang tersebut membatalkan makananya?
Jawabannya,, baca kembali paragraf di atas, "Karena, berpuasa adalah hubungan pribadi dengan Tuhan (Allah)", dan saya sudah mengulang "orang yang berpuasa dengan benar" beberapa kali. Sehingga apabila ada orang yang berpuasa tapi secara sengaja membatalkannya tanpa sebab yang jelas, maka orang tersebut belum menjadi orang yang saya bicarakan di atas.

Di dalam Al-Qur'an, Al Baqarah ayat 184, 185. Sudah dijelaskan orang-orang yang diperbolehkan tidak berpuasa, misalnya orang yang sakit, hamil, menyusui, pekerja berat, dll. Mereka diberikan keringanan untuk tidak berpuasa tetapi membayar atau menggantinya di lain hari.
Tetapi, apabila orang tersebut membatalkan puasa secara sengaja dengan alasan yang tidak-tidak, dosanya akan ditanggung oleh dirinya sendiri, dan Bukan para pedagang yang berjualan dan bukan salah para pedagang juga.

Lalu ini menjadi salah siapa?????

Menjadi salah kita yang hanya memakan berita tersebut mentah-mentah lalu berbicara tanpa menghadirkan solusi. Bagaimana solusi yang seharusnya? Solusi yang sebaik-baiknya adalah kita redam amarah kita bersama, baik yang menjalankan puasa maupun tidak. Lalu, coba masyarakat yang berdomisili di daerah tersebut memberikan saran kepada kepala daerahnya untuk tidak perlu lagi melakukan razia semacam itu, atau bila masih ingin melakukan razia semacam itu hanya melakukan Teguran, bukan penyitaan barang dagangan si pedagang tersebut. Karena tentu saja para pedagang berdagang dengan modal yang didapatkan dari hasil berdagang. Apabila dagangan tersebut disita, secara otomatis pemerintah setempat memiskinkan penduduk di daerahnya.
DAN ... UNTUK APA PENYITAAN TERSEBUT?? MAU DIBAWA KEMANA DAN SELANJUTNYA DIAPAKAN?? Maaf saya menggunakan Capslock, karena hal tersebut menurut saya adalah keganjilan yang dapat membuat persepsi atau pemikiran yang tidak-tidak, Logis bukan?

Saya juga sempat membaca sebuah artikel yang dimana dituliskan bahwa Satpol PP tersebut tidak diperintah untuk melakukan penyitaan. Apabila hal tersebut benar, maka yang bisa jadi salah adalah Satpol PP yang bertugas, mungkin mereka salah tanggap atau perintah yang diajukan masih kurang jelas. Sehingga pimpinan Satpol PP ada baiknya untuk ikut mendampingi atau membuat surat perintah dengan lebih jelas. Tetapi, point saya di sini bukan mempermasalahkan siapa yang salah, tetapi, untuk apa Penyitaan tersebut dilakukan, dan mau diapakan? Karena jika kita mengikuti ajaran Umat Islam, sudah pasti hal tersebut juga salah, Karena membuang-buang makanan yang bisa dikatakan (Mubazir). Serta bila dilihat dari sisi kemanusiaan, hal tersebut bisa menjadi mematikan pendapatan pedagang tersebut dan menambah kemiskinan di daerah tersebut.

Sehingga, untuk Kepala Daerah atau pemerintah setempat lebih mengkaji lagi apa yang seharusnya dilakukan agar hal serupa tidak terulang kembali. Saya, karena saya jauh dan kurang memiliki relasi untuk ke pemerintah-pemerintah, sehingga minimal saya bisa mengubah pola pikir para pembaca dan siapa tahu diantara para pembaca ada yang bisa membantu menyalurkannya ke Pemerintah-pemerintah setempatnya.

Sekian tulisan ini dituliskan, semoga bermanfaat dan membawa pola pikir kita menjadi lebih luas. Jangan lupa tersenyum, dan selamat menunaikan ibadah puasa. Bhay~~~

Wednesday, 8 June 2016

FREE!!

Selamat Malam, Warga..

Malam ini mumpung ingat buka blog karena ada sebuah komplain dari salah satu fans berat saya yang memberi tahu kalau tampilan blog versi mobile saya sedikit aneh, jadi saya merubahnya dengan desktop mode. Maaf ya kuota kalian terpotong lebih banyak, karena saya tidak tahu cara membuatnya kembali pulih, jadi saya ubah saja demikian.

Apa kabarnya puasa kalian? Kalian masih kuat kan puasanya? Koe mesti puasa tengah hari to? Wkwkwkwk. Sabar sabar, puasanya sudah dibawah 30 hari lagi kok, haha. Sudah tidak terasa kan?? Hahahaha.

Oh iya, mumpung ingat. Bulan puasa kali ini saya mau melakukan kegiatan yang Insya Allah Barokah, yaitu berbagi rizky untuk berbuka puasa, alias membagikan buka puasa gratis yang Insya Allah seminggu sekali. Tetapi saya bingung sasaran yang hendak saya tuju. Rencana yang hendak saya bagikan adalah menu minuman saja. Karena nampaknya minuman lebih praktis untuk berbuka di jalan daripada makanan. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan bila ada tambahan rejeki, saya juga akan membagikan makanan gratis untuk berbuka sekali seminggu. Sasaran yang saya bingung, apakah saya membuka puasakan masyarakat biasa saja, pengendara bermotor, atau para orang-orang yang sudah sangat tua yang sedang berjualan cemilan-cemilan, atau yang setipe seperti itu???

Kebingungan ini didasarkan karena bila saya sendiri, saya agak kesusahan membawa barang yang hendak dibagikan tersebut. Sehingga minimal saya harus mengajak 1 orang lagi, yang jelas memiliki tingkat sosial yang tinggi. Tetapi sedikit susah untuk menemukan orang semacam itu belakangan ini. Sebenarnya rencana ini sudah mau terlaksana mungkin setahun atau 2 tahun yang lalu, tetapi teman saya tidak bisa. Hmmmm,, maunya saya tahun ini pasti berjalan dan harus berjalan. Karena menurut saya ini adalah kegiatan yang baik.

Okey, mungkin segini dulu yang bisa saya tulis ya. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menginspirasi, dan jangan lupa tersenyum. Sampai jumpa, BHAY~

Sunday, 5 June 2016

REAL HERO

Hai para penikmat

Besok sudah mulai puasa di tahun 2016, apa yang sudah kamu persiapkan? Sajadah baru, baju koko baru, atau planning" buka puasa bersama teman-teman? Waahhh seru pasti yaaa. Ramadhan kali ini dimulai pada Hari Senin, jadi sudah semestinya besok jangan ada yang memikirkan untuk membenci hari Senin, karena Senin besok adalah Senin yang baik. Wkwkwk. Duh, ini ngomong apa sih? Maaf saya gak bisa ngasih kalimat pengantar yang bagus hahahaha. Maklum, sudah lama gak nulis jadi hasrat nulisnya mesti diasah lagi nih.

Cerita ini terinspirasi dari kejadian di pagi hari ini, ketika saya keluar untuk membeli sarapan dan mengambil cucian di laundry. Berhubung besok sudah puasa, jadi saya bakalan rindu sayur tahu dan ayam gule yang jadi menu PASTI saya diwaktu sarapan di sebuah warung makan, dan tentu juga ibu-ibu si penjualnya. Kalau saya membayar makanan kepada si ibu-ibu tersebut tinggal kasih kode "biasa", maka beliau sudah pasti tidak perlu lagi memberikan harga ataupun menanyakan apa yang saya makan, Kecuali kalau menu yang saya biasa makan sudah habis dan terpaksa saya mengganti dengan lauk lain, haha. Ketika pagi ini saya hendak membayar saya merogoh-rogoh tas dan dompet yang biasa saya bawa untuk uang Rp. 500,00, ibu tersebut berkata bila saya tidak ada uangnya, besok saja gakpapa. Berhubung besok sudah puasa, jadi saya tidak mau ngutang dulu ke sini. Kalau puasa, kan saya gak beli makan sarapan, jadi kapan bayarnya? hehe.
Tapi Pointnya adalah, kebaikan si ibu ini yang mempercayakan uang yang kurang kepada saya itulah yang dinamakan kebaikan yang hari ini jarang sekali bisa ditemui. Bahkan terkadang jika uang saya telalu besar dan beliau tidak ada kembalian, maka saya disuruh untuk membawanya dulu, dan dibayarkan di esok hari, wkwkwkwwk. Tapi berhubung saya tidak suka ngutang kebanyakan jadi terkadang saya tukarkan dulu uang di Indomaret dengan jajan apa yang gak perlu, haha.

Cerita lainnya ketika saya hendak melanjutkan perjalanan menuju laundry, saya melihat di sebuah toko sepatu dan sandal obral, nampak ramai. Rejeki mereka mungkin untuk menyambut Ramadhan banyak orang tua yang hendak membeli untuk anaknya dan juga biasanya dipakai sendiri juga. Mungkin bagi yang lebih mampu lagi, banyak yang membeli pakaian koko baru dan sebagainya. Di sini sang orang tua ingin memberikan 'sesuatu yang baru' untuk keluarganya. Dan bagi saya, itu adalah hal yang sangat mulia meskipun sang anak kadang menganggapnya biasa saja dan cenderung memandangnya menjadi kalau setiap hari raya harus ada pakaian baru dan malah memberatkan orang tuanya sendiri. Apakah saya juga seperti itu? Kalau dulu masih anak-anak saya sudah lupa, tapi yang saya ingat setiap lebaran saya harus dapat uang, hahahaha. Sampai akhirnya tradisi seperti itu berhenti ketika saya lulus SMA. Ketika SMA, baju koko saja saya tidak tahu punya atau tidak, tapi ketika hendak Shalat ID, orangtua saya punya baju koko untuk saya, yang entah setiap tahun beda atau sama saya juga kurang tau karena warnanya sama semua, yakni putih.

Sekarang?? Baju koko saya yang pasti cuma 1 yang dari orang tua dan itu sudah dari tahun 2010 atau 2011 saya juga lupa. Yang jelas baju tersebut ada 3 untuk saya, kakak, dan bapak. Tapi berbeda motif dan mereka selalu tahu apa yang suka yaitu berlengan panjang. Entah saya sangat menyukai Kemeja atau baju koko lengan panjang ketimbang pendek, sampai pada akhirnya kuliah semester 2 atau 3 saya memakai polo shirt sekali karena kemeja sudah kotor semua dan teman-teman saya menyebutkan "TUMBEN", hahahaha. Sampai pada akhirnya keterusan hingga sekarang, padahal dulu saya sudah punya setelan seragam kuliah kemeja lengan panjang dari senin sampai jumat. hahahahahha. Pernah Orang tua menanyakan apakah saya mau baju koko baru atau tidak, saya hanya menjawab gak usah. Tetapi tahun kemarin ketika Shalat ID, ada baju koko yang nampaknya baru saya kenakan. Ahahaha. Tahun demi tahun telah terlewati ketika saya anak-anak, remaja, hingga seperempat abad umur saya di tahun ini. Saya semakin takut, semakin takut kalau mereka akan pergi lalu apa yang bisa saya lakukan lagi? Saya selalu rindu dengan candaan orangtua saya bahkan rindu akan momen-momen indah ketika dulu liburan sekeluarga, menemani bapak saya menyebrangi pulau naik mobil (naik kapal nyebrang nya) yang hanya berdua. Banyak momen yang sangat membekas di pikiran saya.
Ahhhh, kok malah jadi semacam muhasabah? wkwkwkwk

Oh iya sepanjang perjalanan saya juga melihat petani yang masih saja bertani dan mengurus sawahnya seperti lupa kalau besok sudah puasa dan dia tetap harus bekerja seperti itu. Itu menandakan bahwa orang tua terutama yang mencari uang selalu memiliki prinsip, kalau mereka berhenti maka keluarga mereka tidak bisa hidup, jadi mereka akan selalu bekerja keras demi membawakan minimal kolak atau es buah untuk santapan berbuka puasa keluarganya. :')

Sudah dulu ya, panjang juga nih tulisan, moga bacanya gak bosan dan skip" yaaaaaa. Jangan lupa senyum, semoga bermanfaat, BHAY~



Click to view my Personality Profile page