Hai para penikmat
Besok sudah mulai puasa di tahun 2016, apa yang sudah kamu persiapkan? Sajadah baru, baju koko baru, atau planning" buka puasa bersama teman-teman? Waahhh seru pasti yaaa. Ramadhan kali ini dimulai pada Hari Senin, jadi sudah semestinya besok jangan ada yang memikirkan untuk membenci hari Senin, karena Senin besok adalah Senin yang baik. Wkwkwk. Duh, ini ngomong apa sih? Maaf saya gak bisa ngasih kalimat pengantar yang bagus hahahaha. Maklum, sudah lama gak nulis jadi hasrat nulisnya mesti diasah lagi nih.
Cerita ini terinspirasi dari kejadian di pagi hari ini, ketika saya keluar untuk membeli sarapan dan mengambil cucian di laundry. Berhubung besok sudah puasa, jadi saya bakalan rindu sayur tahu dan ayam gule yang jadi menu PASTI saya diwaktu sarapan di sebuah warung makan, dan tentu juga ibu-ibu si penjualnya. Kalau saya membayar makanan kepada si ibu-ibu tersebut tinggal kasih kode "biasa", maka beliau sudah pasti tidak perlu lagi memberikan harga ataupun menanyakan apa yang saya makan, Kecuali kalau menu yang saya biasa makan sudah habis dan terpaksa saya mengganti dengan lauk lain, haha. Ketika pagi ini saya hendak membayar saya merogoh-rogoh tas dan dompet yang biasa saya bawa untuk uang Rp. 500,00, ibu tersebut berkata bila saya tidak ada uangnya, besok saja gakpapa. Berhubung besok sudah puasa, jadi saya tidak mau ngutang dulu ke sini. Kalau puasa, kan saya gak beli makan sarapan, jadi kapan bayarnya? hehe.
Tapi Pointnya adalah, kebaikan si ibu ini yang mempercayakan uang yang kurang kepada saya itulah yang dinamakan kebaikan yang hari ini jarang sekali bisa ditemui. Bahkan terkadang jika uang saya telalu besar dan beliau tidak ada kembalian, maka saya disuruh untuk membawanya dulu, dan dibayarkan di esok hari, wkwkwkwwk. Tapi berhubung saya tidak suka ngutang kebanyakan jadi terkadang saya tukarkan dulu uang di Indomaret dengan jajan apa yang gak perlu, haha.
Cerita lainnya ketika saya hendak melanjutkan perjalanan menuju laundry, saya melihat di sebuah toko sepatu dan sandal obral, nampak ramai. Rejeki mereka mungkin untuk menyambut Ramadhan banyak orang tua yang hendak membeli untuk anaknya dan juga biasanya dipakai sendiri juga. Mungkin bagi yang lebih mampu lagi, banyak yang membeli pakaian koko baru dan sebagainya. Di sini sang orang tua ingin memberikan 'sesuatu yang baru' untuk keluarganya. Dan bagi saya, itu adalah hal yang sangat mulia meskipun sang anak kadang menganggapnya biasa saja dan cenderung memandangnya menjadi kalau setiap hari raya harus ada pakaian baru dan malah memberatkan orang tuanya sendiri. Apakah saya juga seperti itu? Kalau dulu masih anak-anak saya sudah lupa, tapi yang saya ingat setiap lebaran saya harus dapat uang, hahahaha. Sampai akhirnya tradisi seperti itu berhenti ketika saya lulus SMA. Ketika SMA, baju koko saja saya tidak tahu punya atau tidak, tapi ketika hendak Shalat ID, orangtua saya punya baju koko untuk saya, yang entah setiap tahun beda atau sama saya juga kurang tau karena warnanya sama semua, yakni putih.
Sekarang?? Baju koko saya yang pasti cuma 1 yang dari orang tua dan itu sudah dari tahun 2010 atau 2011 saya juga lupa. Yang jelas baju tersebut ada 3 untuk saya, kakak, dan bapak. Tapi berbeda motif dan mereka selalu tahu apa yang suka yaitu berlengan panjang. Entah saya sangat menyukai Kemeja atau baju koko lengan panjang ketimbang pendek, sampai pada akhirnya kuliah semester 2 atau 3 saya memakai polo shirt sekali karena kemeja sudah kotor semua dan teman-teman saya menyebutkan "TUMBEN", hahahaha. Sampai pada akhirnya keterusan hingga sekarang, padahal dulu saya sudah punya setelan seragam kuliah kemeja lengan panjang dari senin sampai jumat. hahahahahha. Pernah Orang tua menanyakan apakah saya mau baju koko baru atau tidak, saya hanya menjawab gak usah. Tetapi tahun kemarin ketika Shalat ID, ada baju koko yang nampaknya baru saya kenakan. Ahahaha. Tahun demi tahun telah terlewati ketika saya anak-anak, remaja, hingga seperempat abad umur saya di tahun ini. Saya semakin takut, semakin takut kalau mereka akan pergi lalu apa yang bisa saya lakukan lagi? Saya selalu rindu dengan candaan orangtua saya bahkan rindu akan momen-momen indah ketika dulu liburan sekeluarga, menemani bapak saya menyebrangi pulau naik mobil (naik kapal nyebrang nya) yang hanya berdua. Banyak momen yang sangat membekas di pikiran saya.
Ahhhh, kok malah jadi semacam muhasabah? wkwkwkwk
Oh iya sepanjang perjalanan saya juga melihat petani yang masih saja bertani dan mengurus sawahnya seperti lupa kalau besok sudah puasa dan dia tetap harus bekerja seperti itu. Itu menandakan bahwa orang tua terutama yang mencari uang selalu memiliki prinsip, kalau mereka berhenti maka keluarga mereka tidak bisa hidup, jadi mereka akan selalu bekerja keras demi membawakan minimal kolak atau es buah untuk santapan berbuka puasa keluarganya. :')
Sudah dulu ya, panjang juga nih tulisan, moga bacanya gak bosan dan skip" yaaaaaa. Jangan lupa senyum, semoga bermanfaat, BHAY~



0 komentar:
Post a Comment